Visi dan Misi Koperasi Kautsar : Menyelamatkan Bumi untuk sesama serta mensejahterakan masyarakat melalui konservasi dan agroforesty

Kamis, 17 November 2011

Koperasi Kautsar : Menyelamatkan Lingkungan dan Mensejahterakan Masyarakat




Ciwidey (Kautsar) - Komitmen Koperasi Kautsar dalam upaya penyelematan lingkungan di Tatar Sunda merupakan bagian terpenting dan tidak terpisahkan dari semangat pendirinya, yaitu Memet Achmad Surahman. Berawal dari keprihatinannya yang mendalam berkaitan dengan rusaknya hutan di wilayah Kabupaten Bandung, dan perilaku manusia yang tidak bersahabat dengan lingkungan, sehingga pengerusakan hutan yang berakibat terjadi bencana alam dimana-mana.

Terlebih ketika terjadi bencana longsor di Ciwidey , lelaki yang akrab disapa Eyang Memet ini hanya dapat menepuk dadanya sambil geram menyalahkan dirinya, karena merasa bersalah atas ulah manusia termasuk dirinya yang tidak peduli terhadap lingkungan, hingga menyebabkan bencana.

”Kita tidak bisa diam saja. Saya tak rela lembur (Sunda/kampung halaman-red) hancur,” ucap Eyang Memet berapi-api.

Perkataannya tegas mengajak warga menyelamatkan tatar Sunda. Bencana yang datang beruntun di berbagai daerah di Jawa Barat (Jabar) dalam dua tahun ini membuat dia menepuk dada, menunjuk diri sendiri sebagai penyebab segala bencana. ”Ini ulah manusia.”

Longsor menghancurkan lebih dari 50 rumah buruh pemetik teh di Perkebunan Teh Dewata, awal tahun itu. Longsor yang menyebabkan tiga rumah terkubur lumpur di Cianjur Selatan dan menewaskan 10 penghuninya, Maret 2010, dan banjir yang makin memuncak sejak 2005 di Kecamatan Dayeuhkolot dan Baleendah, Kabupaten Bandung.

Kemudian Eyang Memet dan 36 keluarga lain yang tergabung dalam Koperasi Aneka Usaha Tatar Sunda (Kautsar) berkomitmen menanam 10 bibit pohon setiap hari. Bibit itu ditanam di mana saja, di lahan warga yang mau menyediakan tanahnya untuk ditanami.

Komitmen itu tumbuh dari kesadaran bahwa aneka bencana di Jabar diakibatkan oleh kerusakan lingkungan yang parah, terutama alih fungsi lahan di hulu Citarum. Lebih dari 80.000 bibit telah ditanamnya di sejumlah lahan kritis.

Data Dinas Kehutanan Jabar menunjukkan, dari areal Daerah Aliran Sungai (DAS) Citarum yang melintasi Jabar seluas 718.268,5 hektar, hanya 158.174 ha (22 persen) berstatus hutan negara, sedangkan 560.094 ha dikuasai masyarakat atau perusahaan. Sedikitnya 30 persen dari 166.611 ha hutan di hulu DAS Citarum rusak.



Koperasi Kautsar yang dirintis Eyang Memet khusus pada usaha pembibitan tanaman. Di bawah binaan Eyang Memet, panggilannya, komunitas itu melestarikan puluhan jenis tanaman langka asli Jabar secara mandiri.

Selama empat tahun, lebih dari 50.000 tegakan dan bibit pohon dirawat di lahan seluas tiga hektar milik Memet di Desa Cibodas, Kabupaten Bandung.

Pendirian koperasi itu bermula dari keprihatinan Memet yang juga pengasuh Perguruan Silat Gagaklumayung dan Gajahputih terhadap kondisi warga di Cibodas yang miskin.

Pada 2006, seorang tetua kampung meminta Memet membantu pembuatan jalan ke pemakaman umum. Ia lalu membeli lahan tiga hektar di sekitar pemakaman itu. Dengan dana awal Rp 100 juta yang dihimpunnya dari dermawan dan jaringan perguruan seni bela diri yang dipimpinnya, Memet memulai usaha koperasi bibit tanaman.

”Ini sekaligus untuk memarakkan pembibitan tanaman, terutama tanaman langka. Bibit-bibit ini tak hanya dijual, tetapi juga disumbangkan kepada mereka yang berniat menumbuhkan pohon di lingkungannya,” ujarnya.

Warga yang tergabung dalam koperasi merawat 30.000 bibit pohon, antara lain jenis buah-buahan seperti nangka dan avokad, atau pohon lindung seperti ki kancing, ki putih, dan cihampelas. Tiga jenis pohon terakhir termasuk langka.

Setiap bulan, koperasi memberi biaya perawatan Rp 50 per bibit dengan masa pembibitan enam bulan. Warga merawat bibit pada satu-dua bulan pertama. Selanjutnya mereka hanya mengawasi dan menyiram bibit. Koperasi memasarkan bibit pohon yang dirawat warga. Pesanan bibit pohon datang dari berbagai instansi.

Dengan konsep itu, warga memperoleh penghasilan sekaligus melestarikan lingkungan. Mereka pun aktif menanam bibit pohon di lahan gundul, terutama di kawasan Ciwidey, Bandung selatan. Sebanyak 36 keluarga yang menjadi anggota koperasi sebelumnya adalah buruh tani dengan penghasilan kurang dari Rp 25.000 per hari. Setelah bergabung di koperasi, mereka bisa meraih rata-rata Rp 2,2 juta per bulan.

Lahan pembibitan milik Eyang Memet itu dikelola 10 pegawai. Selain di Cibodas, Kautsar memiliki tiga lokasi persemaian lain, yakni di Leuwiliang, Ciawul, dan Papakmangu. Setiap bibit yang dijual mendapat sertifikasi dari Bina Produksi Hortikultura Balai Pendidikan Latihan dan Penyuluhan Pertanian.

Jika petani mengurus sendiri sertifikasi bibit itu, mereka bisa menghabiskan puluhan juta rupiah. Untuk sertifikasi bibit albasia misalnya, penangkar bibit harus mengeluarkan Rp 7 juta.

”Pembibit tak perlu lagi mengurus sertifikasi karena koperasi telah mengurusnya. Mereka tinggal merawat dan menjualnya,” ungkap Memet.


Konsep rumah agro


Memet meyakini, setiap jengkal tanah dan kehidupan di atasnya harus dihargai. Manusia dan lingkungan semestinya berkasih-kasihan dan tak saling merugikan.

”Pohon baros yang bijinya merah ini harus disiram dengan hati-hati. Polybag-nya harus segera diganti saat akar mulai membesar. Pohon juga mengerti kalau ia dirawat dan diperhatikan,” ujarnya seraya menunjukkan pohon berdaun hijau dengan tinggi hampir tiga meter di halaman rumahnya.

Memet juga mengajak warga agar tetap menanam pohon sekalipun tak punya lahan luas. Pohon tak memerlukan lahan luas, tetapi ruangan yang cukup. Ia mencontohkan dengan menanam cabai, jagung, padi, hingga pepaya di polybag. 

”Beberapa waktu lalu kami bisa panen padi dalam polybag. Rasanya enak lho,” ujarnya.

Sebuah pot atau polybag bisa menghasilkan tujuh ons padi. Penanaman dengan cara ini disebut dengan konsep rumah agro (agrohome), penanaman pohon di kawasan rumah.

”Saya cuma punya bibit. Kalau ini bisa membantu menjaga lembur, maka biarlah. Jika ada yang memerlukan, saya bisa berikan asal pohonnya nanti benar-benar dirawat,” ujarnya.

Pada 28 November nanti, bertepatan dengan Hari Penanaman Pohon Sedunia, Memet bekerja sama dengan 1.000 pelajar dan mahasiswa di Kabupaten Bandung akan menanam bibit secara massal di lahan kritis seluas 20 hektar di Desa Cibodas.

Upaya tak henti itu merupakan wujud tekadnya untuk terus menjaga lembur. Bagi Eyang Memet keselamatan dan kelestarian lembur adalah titipan dari anak-cucu. (etw/dbs)

sumber : Rini Kustiasih dan kompas media cetak

Tidak ada komentar:

Posting Komentar